Wakil BGN: SPPG Bawang Terancam Disuspensi Permanen
Faktual.Net, Batang, Jateng – Badan Gizi Nasional (BGN) memastikan Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bela Batang Sejahtera di Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang dinonaktifkan setelah ratusan orang diduga mengalami keracunan usai mengonsumsi makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG). Hal itu disampaikan Wakil Kepala BGN Mayor Jenderal TNI (Purn) Trenggono saat mengunjungi korban di Puskesmas Bawang, Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang, Sabtu (26/9/2026).
Trenggono mengatakan, berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Batang pada pukul 07.00 WIB, terdapat sekitar 589 orang yang terdampak. Dari jumlah tersebut, 127 orang masih menjalani perawatan yang tersebar di dua rumah sakit dan empat puskesmas.
“Untuk di Kabupaten Batang, memang ada sekitar 589 update dari data Dinkes Batang pukul 7 pagi. Kemudian sudah mulai membaik. Yang masih dirawat tinggal 127, ada tersebar di dua rumah sakit dan empat puskesmas,” jelasnya.
Dari korban yang terdampak terdapat siswa dan orang dewasa. Sebagian orangtua atau anggota keluarga diduga ikut mengonsumsi makanan MBG yang dibawa pulang oleh anak. Kondisi tersebut menjadi salah satu hal yang perlu dievaluasi dalam pelaksanaan program MBG. Kalau sudah dibawa anaknya ke rumah kan ini sulit kita cek. Sehingga kebanyakan yang kena ada orangtua ataupun paman, ataupun saudara yang lainnya ikut makan, baik makannya di sore hari maupun ada juga yang di malam hari.
“BGN akan memberikan edukasi kembali terkait mekanisme pemberian makanan MBG. BGN juga akan berkoordinasi dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) agar makanan MBG dikonsumsi oleh penerima manfaat di sekolah. Keterlibatan pihak sekolah diperlukan untuk memastikan makanan diberikan kepada penerima manfaat sesuai ketentuan,” terangnya.
Ia juga menyebutkan, sekolah perlu menunjuk petugas atau penanggung jawab untuk memastikan makanan dikonsumsi oleh penerima manfaat yang telah ditentukan. Perlunya juga keterlibatan dari guru, diberi PIC di sekolah untuk mendisiplinkan bahwa makanan ini diperuntukkan untuk penerima manfaat, dalam hal ini adalah siswa.
Terkait status Kepala SPPG Bela Batang Sejahtera yang sebelumnya disebut masih aktif, Trenggono menegaskan bahwa kepala dapur langsung dinonaktifkan setelah terjadi kasus keracunan.
“Kebijakan tersebut berlaku secara otomatis setiap kali terjadi kejadian keracunan yang berkaitan dengan operasional SPPG. Setiap ada kejadian, apakah itu keracunan dan lain-lain, secara otomatis kepala dapur dan operasional dapur langsung dihentikan. Kepala dapur langsung nonaktif,” tegasnya.
Penonaktifan bukan berarti kepala dapur langsung meninggalkan lokasi. Masih terdapat tanggung jawab yang harus diselesaikan selama proses evaluasi dan pembenahan dapur. Secara resmi dia sudah dicopot dari dapur itu, namun ada hal-hal yang perlu diselesaikan di dapur. Artinya pembenahan-pembenahan dan sebagainya nanti akan ditangani.
Sementara itu, operasional SPPG dihentikan sementara atau disuspensi. Status penghentian dapat ditingkatkan menjadi suspensi permanen apabila hasil investigasi menunjukkan adanya pelanggaran. Keputusan tersebut akan mempertimbangkan hasil pemeriksaan laboratorium dari Dinas Kesehatan maupun pemeriksaan pihak kepolisian.
“Apalagi sampai dampak seperti ini, mungkin suspensi berat ke arah suspensi permanen nanti. Karena sudah nanti saya cek dulu dapurnya. Kemudian juga investigasi dari lab, dari Dinkes, kemudian dari kepolisian ada Dokkes, Labfor,” ungkapnya.
Trenggono menambahkan, yayasan dan mitra memiliki peran penting dalam penyediaan sarana dan operasional dapur. Karena itu, kerja sama yang tidak berjalan dengan baik dapat menjadi alasan bagi BGN untuk menghentikan operasional dapur. Ia juga mengapresiasi langkah cepat Pemerintah Kabupaten Batang dalam menangani para korban. Ia menyebut penanganan melibatkan berbagai unsur, mulai dari pemerintah daerah, Dinas Kesehatan, kepolisian, TNI hingga BPBD.
“Kami berterima kasih kepada Pemda Kabupaten Batang yang begitu cepat, begitu sigap dibantu dengan jajarannya, apakah itu dari Polres, Kodim, BPBD dan lainnya, sehingga penanganannya sudah baik, cepat,” pungkas.
Berdasarkan perkembangan terakhir, sebagian besar korban mulai menunjukkan kondisi membaik. Pemerintah daerah dan BGN masih melakukan pemantauan serta investigasi untuk memastikan penyebab kejadian dan mencegah kasus serupa kembali terjadi.